Bagaimana Kamu Memperlakukan Sampah?
Teks Oleh : Insan Tsabita (MC 34.327.15 CKD)
Foto Oleh : Adi Pradipta ((MC 34.320.14 GBR)
Anggota MAHACITA UPI sedang mencoba mesin pencacah |
Permasalahan sampah yang terjadi di lingkungan, pada dasarnya berasal dari diri sendiri. Berdasarkan data Kementrian Lingkungan Hidup, 60% sampah yang ada di lingkungan merupakan sampah organik. Padahal sampah organik merupakan sampah yang dapat terurai dengan sendirinya apabila kondisi lingkungannya memungkinkan. Sayangnya masih banyak orang-orang yang salah dalam memperlakukan sampah. Salah satunya ialah sampah organik yang masih bercampur dengan sampah anorganik. Hal tersebut menjadikan sampah organik tidak dapat terurai dengan sempurna, yang kemudian menimbulkan masalah baru.
Group Discussion Pengelolaan Sampah |
Sebagai Mahasiswa Pencinta Alam, MAHACITA UPI ingin mencoba mengubah paradigma mengenai sampah. Dalam pelatihan ini, anggota MAHACITA UPI diberikan pengetahuan bagaimana mengelola sampah dengan baik, dari memilah sampah, memanfaatkan kembali barang-barang tak terpakai, mengkompos sampah serta langkah-langkah dasar untuk memulai hidup dengan meminimalisir sampah.
Disinilah kami belajar, bagaimana mengelola barang-barang maupun bahan makanan yang dianggap sudah tidak terpakai menjadi masih dapat dipakai dan tentunya bermanfaat. Dengan sentuhan kreatifitas, barang-barang yang 'sudah tidak terpakai' dapat diolah kembali menjadi barang yang bermanfaat dan tidak menjadi sampah. Dengan begitu kita dapat mengurangi produksi sampah.
Sementara itu sampah organik harus dipisahkan dari sampah anorganik. Kemudian Sampah organik diproses menjadi kompos yang nantinya dapat digunakan untuk menyuburkan tanah dan tanaman.
Presentasi setelah group discussion |
Setelah materi mengenai pengelolaan sampah oleh Ibu Pieta, pelatihan dilanjutkan dengan materi pembuatan kompos oleh Pak Andi. Dalam materi oleh Pak Andi, kami diajarkan menggunakan mesin pencacah yang berfungsi mempekecil volume sampah organik sehingga dapat terurai lebih cepat. Sampah organik yang telah dicacah dapat diolah menjadi kompos. Selain itu, sampah organik dapat diproses menjadi biogas. UPI memiliki alat khusus untuk membuat biogas. Hasil pemilahan sampah organik yang dilakukan MAHACITA UPI, dapat diteruskan menjadi biogas dengan memanfaatkan alat tersebut.
Pak Andi saat menjelaskan penggunaan mesin pencacah sampah |
Mencacah Kulit Semangka |
Mencacah Rumput |
Hasil cacahan mesin mempermudah proses pengomposan sampah organik |
Lalu, bagaimana cara untuk meminimalisisr sampah? Kita dapat mengurangi penggunaan barang-barang yang berpotensi menghasilkan sampah. Seperti misalnya mengurangi penggunaan kantong plastik. Hal ini pula yang dilakukan panitia ulang tahun MAHACITA UPI dalam mempersiapkan kegiatan pelatihan pengelolaan sampah. Kami menyiapkan konsumsi makanan yang minim sampah.
Dimulai dengan saat belanja mempersiapkan kebutuhan konsumsi pelatihan. Anggota MAHACITA yakni Ayu dan Galuh menggunakan kantong kain saat berbelanja. Konsumsi yang disediakan juga dipilih yakni makanan yang tidak menghasilkan banyak sampah seperti sayur-sayuran dan bahan makanan lainnya yang tidak menggunakan kemasan.
Belanja konsumsi pelatihan dengan kantong kain |
Selama materi berlangsung, panitia juga menyediakan makanan ringan berupa buah-buahan yaitu semangka dan juga apel. Buah-buahan dipilih karena tidak menghasilkan sampah anorganik, dan kulitnya dapat dimanfaatkan untuk dikompos.
Konsumsi ramah lingkungan, buah-buahan |
Kulit buah semangka dikumpulkan untuk kemudian dicacah dan dikompos |
Liwet nasi merah, dengan alas daun pisang |
Pelatihan kemudian diakhiri dengan makan bersama, dengan menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Penggunaan daun pisang lebih baik, dibandingkan kertas nasi. Mari memulai perubahan dari langkah kecil, dari diri sendiri, dari sekarang. ***
Mantap.. lanjutkan.. smoga Mc tetap jaya...
BalasHapusMqntap!
BalasHapus